Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Inilah Sifat yang Dibenci Allah Tapi Sering Kita Lakukan

Kategori : Info Menarik, Tips, Pengetahuan Islami, Ditulis pada : 13 Mei 2026, 15:37:56

Di antara penyakit hati yang sering luput disadari manusia adalah merasa senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah. Dalam tradisi Islam, sikap ini dikenal dengan istilah syamatah (الشَّماتة). Ia bukan sekadar perilaku buruk dalam pergaulan sosial, melainkan akhlak tercela yang menunjukkan rapuhnya empati dan rusaknya kebersihan hati seorang hamba.

Ironisnya, sifat ini terkadang hadir secara halus. Ada yang tersenyum ketika pesaingnya gagal. Ada yang merasa puas saat orang yang tidak disukainya jatuh dalam kesulitan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam menikmati penderitaan orang lain sambil berkata dalam hati, “Pantas saja dia mendapatkannya.”

Padahal, Islam memandang sikap semacam ini sebagai penyakit ruhani yang sangat berbahaya.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras agar umatnya menjauhi sifat syamatah. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:

تعوذوا بالله من جهد البلاء ، ودرك الشقاء ، وسوء القضاء وشماتة الأعداء

Artinya:
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan syamatah musuh.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa syamatah termasuk perkara yang patut dimohonkan perlindungan kepada Allah. Sebab seseorang yang memiliki sifat tersebut sejatinya sedang menyiapkan keburukan bagi dirinya sendiri.

Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Tirmidzi:

لا تظهر الشماتة لأخيك، فيعافيه الله ويبتليك

Artinya:
“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu. Bisa jadi Allah menyembuhkannya, lalu mengujimu dengan musibah yang sama.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Keadaan manusia tidak pernah tetap. Hari ini seseorang diuji, esok bisa jadi Allah mengangkat derajatnya. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya aman dan lebih baik, belum tentu terhindar dari ujian serupa.

Karena itu, seorang mukmin diajarkan untuk menjaga lisannya, menjaga sikapnya, dan lebih-lebih menjaga hatinya agar tidak merasa puas atas penderitaan orang lain.

Foto umroh (8).jpg

Syamatah Bertentangan dengan Akhlak Persaudaraan Islam

Al-Qur’an menanamkan prinsip bahwa sesama mukmin harus dibangun di atas kasih sayang, penghormatan, dan empati. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok.”

Ayat ini bukan hanya melarang hinaan secara lisan, tetapi juga melarang segala bentuk perasaan merendahkan orang lain, termasuk merasa senang ketika mereka jatuh.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan:

والشماتة السرور بما يصيب أخاك من المصائب في الدين والدنيا. وهي محرمة منهي عنها

Artinya:
“Syamatah adalah rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu, baik dalam urusan agama maupun dunia. Perbuatan ini haram dan terlarang.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa syamatah bukan sekadar sikap tidak etis, melainkan termasuk dosa yang mencederai nilai ukhuwah Islamiyah.

Pandangan Ulama tentang Bahaya Syamatah

Imam Al-Ghazali memandang syamatah sebagai tanda lemahnya akhlak dan rusaknya hati manusia. Dalam kitab Mizanul ‘Amal, beliau menjelaskan:

الشَّماتةُ: الفَرَحُ بالشَّرِّ الواصِلِ إلى غيرِ المُستَحِقِّ

Artinya:
“Syamatah adalah rasa gembira atas keburukan atau musibah yang menimpa orang lain yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya.”

Menurut Imam Al-Ghazali, hati yang sehat semestinya merasa sedih ketika melihat sesama tertimpa kesulitan. Sebab seorang mukmin sejati memiliki kasih sayang terhadap orang lain, bukan justru menikmati penderitaan mereka.

Dalam banyak kasus, syamatah lahir dari penyakit yang lebih dalam, yaitu hasad dan kebencian.

Akar Syamatah: Dengki dan Permusuhan

Muhammad al-Tahir Ibn Asyur dalam tafsir At-Tahrir wat Tanwir menjelaskan:

والشماتة : سرور النفس بما يصيب غيرها من الأضرار ، وإنما تحصل من العداوة والحسد

Artinya:
“Syamatah adalah kegembiraan jiwa atas musibah yang menimpa orang lain. Hal itu biasanya muncul karena permusuhan dan kedengkian.”

Ketika seseorang tidak rela melihat orang lain bahagia, sukses, atau mendapatkan nikmat, maka perlahan tumbuh rasa iri dalam hatinya. Dari sinilah syamatah muncul. Ia merasa puas ketika melihat orang yang didengkinya gagal atau jatuh.

Padahal Allah SWT telah memperingatkan bahaya hasad dalam Surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Artinya:
“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.”

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa dengki dapat menghanguskan amal kebaikan:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya:
“Jauhilah sifat dengki, karena dengki memakan pahala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Syamatah dalam Perspektif Psikologi Modern

Dalam kajian psikologi modern, perilaku merasa senang atas penderitaan orang lain dikenal dengan istilah schadenfreude. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman: schaden berarti kerugian atau penderitaan, sedangkan freude berarti kegembiraan.

Fenomena ini sering muncul dalam kehidupan sosial. Misalnya ketika seseorang merasa puas melihat rivalnya gagal, atau diam-diam merasa senang saat orang yang dianggap lebih sukses mengalami masalah.

Para psikolog menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya dipicu oleh rasa iri, persaingan, kebutuhan merasa lebih unggul, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Jika tidak dikendalikan, perasaan semacam ini dapat mengikis empati dan menjadikan hati semakin keras.

Menjaga Hati agar Terhindar dari Syamatah

Islam tidak hanya melarang syamatah, tetapi juga mengajarkan cara membersihkan hati darinya. Di antaranya:

  • memperbanyak muhasabah diri,
  • melatih empati kepada sesama,
  • mendoakan kebaikan bagi orang lain,
  • serta menyadari bahwa seluruh keadaan hidup berada dalam ketetapan Allah.

Seorang mukmin hendaknya memahami bahwa ujian hidup bisa datang kepada siapa saja. Tidak ada manusia yang selalu berada di atas. Karena itu, ketika melihat saudara kita tertimpa kesulitan, sikap yang benar bukanlah bergembira, melainkan mendoakan, membantu, dan menghadirkan kasih sayang.

Sebab kebahagiaan sejati bukan terletak pada jatuhnya orang lain, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap bersih dari iri dan dengki.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari penyakit syamatah, hasad, dan segala bentuk kebencian tersembunyi. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lembut hatinya, mudah berempati, serta senantiasa mencintai kebaikan bagi sesama. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber Referensi : NU Online

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id