Belajar Ikhlas dan Tetap Berharap kepada Allah dari Kisah Nabi Ya‘qub As
Kesedihan adalah bagian dari fitrah manusia. Setiap orang pasti pernah merasakannya, terutama ketika ditimpa musibah atau kehilangan sesuatu yang sangat dicintai. Baik kehilangan harta, kesehatan, maupun orang-orang terkasih, semuanya dapat meninggalkan luka yang mendalam dalam hati.
Bahkan para nabi yang memiliki keteguhan iman luar biasa pun pernah merasakan kesedihan. Rasulullah saw mengalami masa yang sangat berat ketika istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah ra, dan paman beliau, Abu Thalib, wafat pada tahun yang sama. Tahun tersebut kemudian dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzni atau Tahun Kesedihan.
Demikian pula Nabi Ya‘qub as yang sangat bersedih ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf as. Kisah kesedihan beliau diabadikan dalam Al-Qur’an:
وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ ٨٤ قَالُوْا تَاللّٰهِ تَفْتَؤُا تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتّٰى تَكُوْنَ حَرَضًا اَوْ تَكُوْنَ مِنَ الْهٰلِكِيْنَ ٨٥
Artinya:
“Dia (Ya‘qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, ‘Alangkah sedihnya aku karena Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan amarah dan kepedihan. Mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau mengidap penyakit berat atau termasuk orang yang akan binasa.’”
(QS Yusuf: 84–85)
Profesor M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata ḥuzn berarti kesedihan atau kekeruhan jiwa akibat sesuatu yang menyakitkan. Kesedihan merupakan hal yang manusiawi. Namun, Islam mengajarkan agar kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan yang menghancurkan harapan dan ketenangan jiwa.
Dalam menghadapi musibah, terdapat banyak pelajaran berharga dari kisah Nabi Ya‘qub as yang dapat dijadikan teladan.

Sumber Foto :
1. Menerima Kesedihan, Namun Tidak Berputus Asa
Nabi Ya‘qub as tidak memungkiri rasa sedih yang beliau rasakan. Akan tetapi, kesedihan itu tidak membuat beliau kehilangan harapan kepada Allah Swt. Beliau berkata:
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS Yusuf: 86)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin boleh merasa sedih, tetapi hendaknya tetap menggantungkan harapan hanya kepada Allah Swt. Dalam setiap musibah, manusia dianjurkan untuk mengingat Allah dengan mengucapkan kalimat istirjā’:
اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.”
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa kalimat tersebut dianjurkan diucapkan ketika tertimpa musibah, bahkan dalam perkara yang tampak kecil sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diajarkan untuk selalu menyandarkan segala keadaan kepada Allah Swt.
2. Mengingat Allah Menumbuhkan Harapan
Ketika hati kembali mengingat Allah, maka harapan akan tumbuh di tengah kesulitan. Seberat apa pun ujian yang dihadapi, seorang mukmin meyakini bahwa pertolongan Allah selalu ada.
Nabi Ya‘qub as memberikan teladan luar biasa ketika beliau berkata kepada anak-anaknya:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
Artinya:
“Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir.”
(QS Yusuf: 87)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh memutus harapan kepada Allah, karena rahmat-Nya selalu terbuka bagi hamba-hamba-Nya.
Selain itu, harapan sering kali lahir dari dukungan orang-orang di sekitar. Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menguatkan mereka yang sedang tertimpa musibah. Oleh karena itu, Islam melarang seseorang merasa senang atas penderitaan orang lain. Rasulullah saw bersabda:
لا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
Artinya:
“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena Allah mungkin akan mengasihinya dan menimpakan ujian kepadamu.”
(HR At-Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan pentingnya empati, kepedulian, dan menjaga perasaan sesama manusia.
3. Menjaga Akal Sehat dan Keimanan
Musibah yang besar terkadang dapat membuat seseorang kehilangan kendali. Dalam situasi sulit, seperti bencana alam atau kehilangan harta benda, tidak sedikit orang yang tergoda melakukan hal-hal yang melanggar syariat.
Padahal Islam tetap melarang mengambil hak milik orang lain, meskipun dalam keadaan sulit. Rasulullah saw bersabda:
لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ
Artinya:
“Tidak halal mengambil harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.”
(HR Ad-Daraquthni)
Karena itu, musibah tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan akhlak, akal sehat, dan keimanan. Dalam kondisi seperti ini, dukungan sosial dan kebijakan pemerintah yang tepat juga sangat diperlukan agar masyarakat dapat menghadapi ujian dengan tenang dan terarah.
Penutup
Musibah merupakan bagian dari ujian kehidupan yang pasti dialami setiap manusia. Kesedihan atas musibah adalah hal yang wajar, namun Islam mengajarkan agar kesedihan itu tidak berubah menjadi keputusasaan.
Teladan Nabi Ya‘qub as mengajarkan bahwa di balik air mata dan kesedihan, seorang mukmin tetap harus memiliki harapan kepada Allah Swt. Dengan kesabaran, tawakal, doa, serta dukungan dari sesama, setiap ujian insyaAllah akan menjadi jalan menuju kebaikan dan kemuliaan.
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian kehidupan, serta menjadikan setiap musibah sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.
Sumber Referensi : NU Online
