Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Sejarah Kurban: Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Taat kepada Allah

Kategori : Info Menarik, Sejarah, Pengetahuan Islami, Sejarah Islam, Ditulis pada : 23 Mei 2026, 14:55:09

Ibadah kurban bukan sekadar tradisi yang dilakukan setiap Hari Raya Idul Adha. Di balik syariat tersebut, terdapat kisah penuh haru tentang ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan yang diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam.

Kisah ini menjadi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Tidak hanya mengajarkan tentang pengorbanan, tetapi juga menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segala-galanya.

Perjalanan itu bermula setelah Nabi Ibrahim selamat dari peristiwa pembakaran yang dilakukan Raja Namrud dan para pengikutnya. Dengan kuasa Allah, api yang seharusnya membakar tubuh Nabi Ibrahim justru berubah menjadi dingin dan tidak membahayakannya. Setelah peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim memutuskan berhijrah meninggalkan kaumnya demi mempertahankan keimanan kepada Allah. Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian menikah dengan Siti Hajar dan dikaruniai seorang putra bernama Nabi Ismail ‘alaihis salam.

Hari demi hari berlalu. Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh, patuh, dan selalu membantu ayahnya dalam berbagai pekerjaan. Kasih sayang Nabi Ibrahim kepada putranya pun begitu besar. Namun di tengah kebahagiaan itu, Allah memberikan sebuah ujian yang sangat berat.

Suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa dirinya menyembelih putra tercintanya sendiri.

Foto umroh (21).jpg
Sumber Foto : PEXEL - Ranag

Awalnya, Nabi Ibrahim tidak langsung memahami mimpi tersebut. Beliau terus merenung dan memohon petunjuk kepada Allah. Namun mimpi yang sama kembali datang pada malam berikutnya, bahkan hingga tiga kali berturut-turut. Dari situlah Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah yang harus dilaksanakan. Saat itu, menurut sebagian ulama, Nabi Ismail masih berusia sekitar tujuh tahun. Pendapat lain menyebutkan bahwa usianya telah mencapai tiga belas tahun.

Dengan hati yang berat, Nabi Ibrahim akhirnya menyampaikan perintah tersebut kepada putranya. Allah mengabadikan percakapan keduanya dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya:
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’” (QS. As-Saffat: 102)

Jawaban Nabi Ismail sungguh di luar dugaan. Tidak ada penolakan, tangisan, ataupun ketakutan. Dengan penuh keikhlasan dan keteguhan iman, ia menjawab:

قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya:
“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)

Betapa luar biasanya keteguhan hati seorang anak yang rela menyerahkan dirinya demi menjalankan perintah Allah. Begitu pula Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan putra yang sangat dicintainya demi membuktikan ketaatan kepada Rabb-nya. Dengan hati yang dipenuhi kesedihan, Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail menuju Mina. Di tempat itulah peristiwa besar tersebut akan terjadi.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Ismail bahkan membantu menguatkan hati ayahnya. Ia berkata:

يا أبت اشدد رباطى حتى لا اضطرب، واكفف عنى ثيابك حتى لا يتناثر عليها شئ من دمى فتراه أمى فتحزن، وأسرع مرّ السكين على حلقى ليكون أهون للموت على، فإذا أتيت أمى فاقرأ عليها السلام منى

Artinya:
“Wahai ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tidak bergerak. Singkapkan pakaianmu agar darahku tidak mengenainya sehingga ibu melihatnya lalu bersedih. Tajamkanlah pisaumu dan percepatlah penyembelihan agar terasa lebih ringan bagiku. Jika engkau bertemu ibu, sampaikan salamku kepadanya.”

Mendengar ucapan putranya, hati Nabi Ibrahim semakin hancur. Air mata beliau tidak mampu lagi dibendung. Namun sebagai hamba yang taat, beliau tetap berusaha menjalankan perintah Allah.

Nabi Ibrahim pun menjawab:

نعم العون أنت يا بُني على أمر الله

Artinya:
“Sungguh, engkau adalah sebaik-baik penolong dalam menjalankan perintah Allah, wahai anakku.”

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail dan mulai mengarahkan pisaunya ke leher sang anak. Namun keajaiban Allah pun terjadi. Pisau yang sangat tajam itu sama sekali tidak mampu melukai Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mencoba berkali-kali, tetapi tetap tidak meninggalkan bekas sedikit pun.

Saat itu Nabi Ismail kembali berkata kepada ayahnya:

يا أبتِ كبّني لوجهي على جبيني، فإنّك إذا نظرت في وجهي رحمتني، وأدركتك رقّة تحول بينك وبين أمر الله وأنا لا أنظر إلى الشفرة فأجزع

Artinya:
“Wahai ayahku, telungkupkan wajahku agar engkau tidak melihat wajahku dan merasa iba sehingga menghalangimu menjalankan perintah Allah. Aku juga tidak ingin melihat kilatan pisau itu karena aku takut.” Begitu besar keteguhan iman Nabi Ismail. Dalam situasi yang begitu menegangkan, ia justru membantu ayahnya agar tetap kuat menjalankan perintah Allah.

Di saat itulah Allah menurunkan firman-Nya:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ۝ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ۝ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ۝ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

Artinya:
“Lalu Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim pujian di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 104–108)

Allah akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban sebagai bentuk rahmat dan penghormatan atas ketaatan keduanya.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi asal mula disyariatkannya ibadah kurban bagi umat Islam. Setiap Idul Adha, umat Islam diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah, sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai.

Kisah ini mengajarkan bahwa keimanan sejati bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga kesiapan untuk taat ketika Allah memberi ujian yang berat. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membuktikan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas kepentingan pribadi, rasa takut, bahkan rasa sayang kepada keluarga.

Karena itu, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Lebih dari itu, kurban adalah simbol ketakwaan, keikhlasan, dan bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id