6 Keutamaan Bulan Dzulhijjah, dari 10 Hari Pertama hingga Momentum Haji dan Idul Adha
Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu bulan paling istimewa dalam Islam. Bulan ini termasuk ke dalam empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, bersama Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Di dalamnya terdapat banyak momen penting bagi umat Islam, mulai dari sepuluh hari pertama yang penuh keutamaan, Hari Arafah, Idul Adha, Hari Tasyrik, hingga pelaksanaan ibadah haji.
Karena memiliki banyak kemuliaan, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh selama bulan Dzulhijjah. Mulai dari zikir, puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak doa dan ibadah lainnya. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa memperbanyak zikir pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan, terutama pada Hari Arafah.
واعلم أنه يستحب إكثار من الأذكار في هذا العشر زيادة على غيره ويستحب من ذلك في يوم عرفة أكثر من باقى العشر
Artinya:
“Ketahuilah bahwa disunnahkan memperbanyak zikir pada sepuluh awal Dzulhijjah dibanding hari lainnya. Dan di antara sepuluh awal itu, memperbanyak zikir pada Hari Arafah sangat disunnahkan.”
Anjuran tersebut juga disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Artinya:
“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 28)
Mayoritas ulama, termasuk Ibnu Abbas dan Imam Asy-Syafi’i, menjelaskan bahwa yang dimaksud ayyāmin ma‘lūmāt dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Keutamaan ini juga diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Artinya:
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Karena itu, perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR Ahmad)
Berikut enam keutamaan bulan Dzulhijjah yang perlu diketahui umat Islam:

Sumber Foto : PEXEL - Yeremia Ganda
1. Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Menjadi Waktu Terbaik untuk Beribadah
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW bahkan menyebut bahwa amal ibadah pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dibanding hari-hari lainnya.
عن ابن عبّاس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: «ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى الله من هذه الأيام - يعني أيّام العشر - قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء»
Artinya:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Termasuk jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Termasuk jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa amal saleh pada masa tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar dibanding waktu-waktu lainnya dalam setahun.
Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan:
«سيد الشهور رمضان، وأعظمها حرمة ذو الحجة»
Artinya:
“Pemimpin seluruh bulan adalah Ramadhan, dan bulan yang paling agung kehormatannya adalah Dzulhijjah.”
2. Hari Arafah Menjadi Puncak Keutamaan Dzulhijjah
Hari Arafah diperingati setiap tanggal 9 Dzulhijjah dan menjadi salah satu hari paling mulia dalam Islam. Pada hari itu, jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah sebagai puncak ibadah haji. Sementara bagi umat Islam yang tidak berhaji, dianjurkan menjalankan Puasa Arafah karena memiliki keutamaan besar.
عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ أَمَامَهُ وَسَنَةٌ بَعْدَهُ
Artinya:
“Siapa pun yang menjalankan puasa pada Hari Arafah, maka akan diampuni dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Ibnu Majah)
Hari Arafah juga menjadi momen turunnya ayat penyempurnaan agama:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ دِيناً
Artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat tersebut turun ketika Rasulullah SAW sedang berada di Padang Arafah pada hari Jumat.
3. Idul Adha Mengajarkan Makna Pengorbanan
Tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha atau Yaumun Nahr. Pada hari ini, umat Islam melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Idul Adha juga menjadi pengingat atas kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menunjukkan ketakwaan dan kepatuhan luar biasa kepada Allah SWT. Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, serta kepedulian sosial terhadap sesama.
4. Hari Tasyrik Menjadi Hari untuk Bersyukur dan Berzikir
Setelah Idul Adha, umat Islam memasuki Hari Tasyrik yang berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيّامٍ مَعْدُوداتٍ
Artinya:
“Dan ingatlah Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 203)
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut merujuk pada Hari Tasyrik.
Pada hari-hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir dan takbir. Selain itu, Rasulullah SAW juga melarang umat Islam berpuasa pada Hari Tasyrik.
عَنْ بِشْرِ بْنِ سُحَيْمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَقَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ هَذِهِ الْأَيَّامَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya:
“Sesungguhnya hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR Ibnu Majah)
5. Ibadah Haji Menjadi Puncak Perjalanan Spiritual
Bulan Dzulhijjah juga identik dengan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam kelima. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan kesabaran, kesederhanaan, persaudaraan, dan ketundukan kepada Allah SWT. Melalui ibadah haji, umat Islam diingatkan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah tanpa memandang status sosial maupun latar belakang.
6. Momentum Muhasabah Menjelang Akhir Tahun Hijriah
Dzulhijjah merupakan bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Karena itu, bulan ini sering dijadikan momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Umat Islam dianjurkan mengevaluasi perjalanan ibadah selama satu tahun terakhir, memperbaiki kekurangan, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menyambut tahun baru Hijriah.
Dengan berbagai keutamaan tersebut, bulan Dzulhijjah menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih pahala, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya setiap Muslim memanfaatkan bulan mulia ini dengan memperbanyak ibadah, zikir, doa, puasa sunnah, sedekah, hingga menjaga hubungan baik dengan sesama.
Sumber Referensi : NU Online
