Tips Memperbaiki Diri Setelah Ramadhan
Tips Memperbaiki Diri Setelah Ramadhan

Sahabat Fauzi, sudah hampir satu pekan kita semua berpisah dengan bulan Ramadhan. Ia telah pergi, dan kita tidak tahu apakah masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berjumpa kembali dengannya atau tidak. Sebab, kematian tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bisa saja, ia lebih dahulu menjemput kita semua sebelum datangnya bulan Ramadhan yang akan datang.
Juga menyisakan pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama adalah, apa yang berubah dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Apakah kita kembali seperti sebelum Ramadhan? Ataukah kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah swt?
Tujuan utama dari ibadah Ramadhan adalah membentuk ketakwaan. Maka, tanda keberhasilan Ramadhan bukanlah pada berlalunya bulan tersebut, tetapi pada berlanjutnya ketaatan setelahnya. Jika setelah Ramadhan kita masih menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, serta menjauhi maksiat, maka itulah tanda bahwa ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah swt. Dan Ramadhan yang menjadi madrasah telah sukses mendidik jiwa kita.
Namun jika sebaliknya, setelah Ramadhan kita kembali lalai, meninggalkan shalat, dan tenggelam dalam dosa, maka kita patut khawatir bahwa Ramadhan kita belum memberi bekas dalam hati sanubari. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif mengatakan:
عَلاَمَةُ قَبُوْلِ الطَّاعَةِ أَنْ تُوْصَلَ بِطَاعَةٍ بَعْدَهَا وَ عَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ تُوْصَلَ بِمَعْصِيَةٍ. مَا أَحْسَنَ الْحَسَنَةِ بَعْدَ الْحَسَنَةِ وَأَقْبَحَ السَّيِّئَةِ بَعْدَ الْحَسَنَةِ
Artinya: Tanda-tanda diterimanya ketaatan adalah dengan konsisten terus beribadah setelahnya. Dan tanda-tanda ditolaknya ketaatan adalah dengan melakukan kemaksiatan setelahnya. Betapa mulianya suatu ibadah yang dilakukan setelah ibadah yang lain, dan betapa jeleknya sebuah keburukan yang dilakukan setelah ibadah.
Untuk tetap di jalur kebaikan setelah Ramadhan dan tetap istiqamah dalam mengerjakannya, maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki diri:
Pertama, istikamah dalam ibadah Istikamah adalah kunci keberhasilan seorang hamba. Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit. Maka dari itu, jangan jadikan ibadah hanya semangat di bulan Ramadhan saja. Jika kita mampu membaca Al-Qur’an setiap hari di bulan Ramadhan, maka lanjutkan walaupun hanya beberapa ayat setiap hari setelahnya. Jika kita terbiasa shalat malam, maka jangan tinggalkan sepenuhnya. Walaupun hanya dua rakaat, tetaplah jaga hubungan dengan Allah di sepanjang malam.
Kedua, menjaga hati dan lisan Setelah Ramadhan hingga bertemu dengan Ramadhan selanjutnya, hendaknya kita tetap menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakiti orang lain. Hati juga harus dijaga dari penyakit seperti iri, dengki, dan sombong.
Ketiga, memperbanyak taubat Walaupun kita telah berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar zakat, bukan berarti kita sudah bersih dari dosa. Justru seorang mukmin sejati selalu merasa kurang dan terus memperbanyak istighfar. Allah mencintai hamba yang bertaubat. Maka jangan pernah merasa cukup, tetapi teruslah memperbaiki diri. Rasulullah saw sendiri selalu membaca istighfar lebih dari 70 kali setiap hari, meski beliau tidak memiliki dosa. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: وَاللهِ إَنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِليهِ فِي اليَومِ أَكثَرَ مِنْ سَبعِينَ مَرَّةً
Artinya : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Demi Allah, sesungguhnya aku pasti memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali (HR Bukhari).
Keempat, menjaga ukhuwah dan kepedulian sosial Setelah Ramadhan selesai, jangan sampai kita berhenti berbagi, bersedekah, dan membantu sesama. Teruslah peduli kepada fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).
Sahabat Fauzi, semoga Ramadhan yang telah kita lewati membawa manfaat bagi diri kita sehingga kebaikan-kebaikan tersebut akan dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. Amin ya rabbal alamin.
Sumber : NUOnline
