Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Rahasia Menahan Diri dalam Ibadah Puasa

Kategori : Info Menarik, Pengetahuan Islami, Ditulis pada : 28 Februari 2026, 15:04:18

Rahasia Menahan Diri dalam Ibadah Puasa

Ilustration menahan diri.png

Sahabat Fauzi, Bulan Ramadhan merupakan bulan tarbiyah, bulan pendidikan ruhani yang membentuk kedewasaan batin dan membimbing perilaku umat Islam agar selaras dengan visi ilahiah dalam ajaran Islam. Di antara pelajaran paling mendasar yang diajarkan melalui ibadah puasa adalah kemampuan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta menata sikap dan tindakan.  

Hari ini kita telah dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan agung yang menyimpan banyak kebaikan dan fasilitas keimanan untuk kita semua umat islam.   Bulan Ramadhan juga merupakan bulan tarbiyah yang mendidik batin dan membimbing perilaku umat islam agar selaras dengan visi ilahi dalam ajaran Islam. Secara alamiah, nature, pendidikan penting yang diajarkan ibadah puasa adalah menahan diri.  

Puasa sendiri yang dalam bahasa Arab adalah ṣaum atau ṣiyam memiliki arti menahan atau imsak. Ibadah puasa secara fikih berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.  

Di siang hari bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk menahan diri dari perbuatan yang sebenarnya tidak dilarang yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Proses menahan diri ini penting untuk direnungkan karena kebaikan hidup dan keselamatan diri kita ditentukan seberapa mampu kita mengendalikan diri terhadap hal-hal yang merugikan diri sendiri atau orang lain, atau bahkan terhadap sesuatu yang terlihat tidak merugikan.  

Di era teknologi saat ini, jika kita tidak dapat mengendalikan mulut kita atau jari tangan kita saat menuliskan komentar di media sosial, maka kita akan dikriminalisasi dan bisa mendekam di penjara. Pengendalian diri inilah inti pendidikan ibadah puasa yang diwajibkan kepada kita semua.   Dalam hal ini Rasulullah saw. Menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

  الصِّيَامُ جُنَّةٌ فلا يَرْفُثْ ولَا يَجْهلْ، وإنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِن رِيحِ المِسْكِ. يَتْرُكُ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ وشَهْوَتَهُ مِن أجْلِي الصِّيَامُ لِي، وأَنَا أجْزِي به والحَسَنَةُ بعَشْرِ أمْثَالِهَا.  

Artinya: “Puasa adalah benteng (perisai), maka janganlah dia (orang yang berpuasa) berkata kotor dan tidak bertindak bodoh. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah dia berkata: ‘Saya sedang puasa’ (dua kali). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya demi Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat kebaikan serupa.” (HR. Bukhari Muslim)  

Di awal hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa adalah perisai. Sebuah penggambaran yang indah yang menegaskan bahwa dengan ibadah puasa seseorang dapat terhindar dari perbuatan maksiat dan dengan ibadah puasa pula seorang mukmin dapat mengendalikan diri dari hal-hal yang terlarang.   Imam Al-Ghazali dalam Ihya’-nya berargumentasi bahwa puasa adalah upaya memaksa dan menundukkan kekuatan musuh setan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, setan selalu memanfaatkan syahwat atau hasrat yang ada dalam diri manusia.  

Semakin kuat hasrat manusia maka semakin kuat pula kuasanya atas manusia, sebaliknya semakin lemah hasrat manusia maka semakin lemah pula kuasa setan. Adapun hasrat atau syahwat manusia itu menjadi kuat dengan suplai makanan dan minuman yang terus menerus.   Jika suplai makanan dan minuman ini di-stop untuk sementara waktu maka ini tentu berdampak melemahkan kekuatan setan.  

Pada bagian hadis selanjutnya, Rasulullah saw. memberi contoh nyata bagaimana mengendalikan diri saat ibadah puasa. Beliau melarang untuk berkata kotor dan bertindak bodoh. Biasanya, orang berkata kotor itu karena disulut oleh kemarahan dan emosi yang tak terkendali, demikian juga bertindak bodoh seperti mengumpat, membentak-bentak, dan adu mulut.  

Dalam keseharian, tentu kita mendapati banyak peristiwa yang dapat memicu kemarahan dan perbuatan emosional baik di dunia nyata atau di media sosial.   Bulan suci Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa perkataan kotor dan tindakan emosional tersebut harus dihindari. Hal ini bukan berarti di luar Ramadhan berkata kasar diperbolehkan, tetap saja di luar bulan Ramadhan perbuatan tersebut tidak diperbolehkan, dan semakin kuat larangannya saat bulan Ramadhan, sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Hajar dalam Syarḥ al-Bukhari.  

Lebih lanjut, Rasulullah saw memperjelas sikap orang berpuasa ketika menghadapi situasi emosional. Beliau menyatakan, jika ada seseorang yang menyerangmu dengan perkataan kotor, caci maki, dan umpatan maka diam dan jangan membalas.  

Katakan kepadanya, saya sedang puasa. Respons yang adem dan mengingatkan kepada hakikat ibadah puasa yaitu pengendalian ego dan emosi. Dan untuk menguatkan respons tersebut, Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengatakannya dua kali.  

Menurut Imam Nawawi, sebagaimana yang dinukil Imam Ibnu Hajar Syarḥ al-Bukhari, bahwasanya yang menjadi sasaran dari jawaban tersebut tidak hanya orang yang menyerang dengan kata-kata kasar, tetapi juga ego dan nafsu orang yang berpuasa.  

Selain mengingatkan kepada orang yang diajak bicara, perkataan ‘saya sedang berpuasa’ juga menyadarkan diri orang yang berpuasa agar dapat mengendalikan kemarahan dan tidak membalas dengan perkataan dan perbuatan yang emosional.  

Jamaah shalat jumat yang baik hati. Inilah inti pengendalian diri yang diajarkan oleh ibadah puasa yang dilakukan sebulan penuh di bulan suci Ramadhan ini. Ikhtiar kita untuk bisa mengendalikan diri melalui ibadah puasa tidaklah sia-sia di sisi Allah swt. Sebagai bentuk kebajikan-Nya, Allah SWT menyiapkan pahala yang tidak terkira.   Di bagian akhir hadis tersebut, Allah SWT.   Melalui lisan Rasulullah saw menegaskan besarnya pahala ibadah puasa dengan ungkapan ‘puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya’.  

Imam Al-Qurthubi, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar, menjelaskan bahwa amal ibadah manusia telah ditentukan oleh Allah swt besaran pahalanya dari 10 sampai 700 kali lipat amal perbuatan, kecuali ibadah puasa. Allah swt sendiri yang akan memberikan pahalanya yang besar dan berlimpah tanpa batas ketentuan yang berlaku.  

Pengendalian diri dalam ibadah puasa ini menjadi substansi dan alasan utama bahwa ibadah puasa dapat diterima dan mendapatkan pahala. Hal ini dinyatakan dalam hadis Rasulullah saw.:

  مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ  

Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, berbuat dusta, dan kebodohan (kemaksiatan), maka Allah tidak butuh (menerima) dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari)  

Hadis di atas menunjukkan seseorang yang melaksanakan ibadah puasa tetapi tidak bisa mengendalikan diri sehingga melakukan perkataan dusta, berbuat dusta, dan kemaksiatan yang lain, maka ibadah puasa tersebut tidak diterima oleh Allah SWT dan tidak mendapatkan pahala.  

Dari hadis ini, Imam Al-Baidhawi, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar, menyimpulkan bahwa tujuan sebenarnya ibadah puasa adalah bukan situasi lapar atau dahaga itu sendiri akan tetapi agar seseorang itu dapat mengendalikan nafsu, ego, dan syahwat yang ada di dalam dirinya.   

Sahabat Fauzi, semoga kita semua mendapatkan kemudahan dan kekuatan dari Allah swt. untuk bisa menjalani ibadah puasa dengan baik dan mengendalikan diri dalam ibadah puasa.

Sumber : NUOnline

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id