Karhutla Masih Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia, Ratusan Hektare Lahan Masih dalam Penanganan
Karhutla Masih Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia, Ratusan Hektare Lahan Masih dalam Penanganan

JAKARTA, 22 Oktober 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Meski jumlah titik panas secara nasional mengalami penurunan, upaya pemadaman dan pendinginan lahan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas.
Sahabat Al-Fauzi Berdasarkan data Kementerian Kehutanan yang dirilis pada 20 Oktober 2026, pemantauan hingga 19 Oktober pukul 21.00 WIB mencatat 487 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Indonesia. Angka tersebut turun 617 titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 1.104 titik panas. Namun, kondisi ini belum menunjukkan bahwa ancaman karhutla telah sepenuhnya berakhir. (Kementerian Kehutanan)
Sejumlah Wilayah Masih Menjadi Perhatian
Penanganan karhutla masih difokuskan pada enam provinsi prioritas, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, dan Riau.
Dalam laporan yang sama, Sumatera Selatan mencatat 64 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 49 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 40 titik. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 12 titik, Jambi tujuh titik, dan Riau tidak mencatat titik panas dalam kategori tersebut pada periode pemantauan.
Selain wilayah Sumatera dan Kalimantan, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam laporan situasi bencana pada 21 Oktober 2026, mencatat kebakaran lahan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang melanda empat hektare lahan. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama.
Di Sulawesi Tengah, kebakaran di Desa Uekuli, Kabupaten Tojo Una-Una, dilaporkan melanda lahan seluas 10 hektare. Sementara itu, kebakaran di kawasan Gunung Ranindi, Kabupaten Sigi, berdampak pada sekitar 60 hektare lahan. Proses penanganan di kawasan tersebut menghadapi kendala medan yang sulit.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dengan luas terdampak sekitar 2,55 hektare. Adapun di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kebakaran lahan seluas dua hektare berhasil dipadamkan dan dilanjutkan dengan proses pendinginan. (BNPB)
Pemerintah Perkuat Pemadaman Darat dan Udara
Untuk mempercepat penanganan, pemerintah bersama BNPB, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait terus memperkuat operasi pemadaman melalui jalur darat maupun udara.
BNPB melaporkan bahwa hingga 19 Oktober 2026, target penanganan karhutla di enam provinsi prioritas mencakup area seluas 1.024,33 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 454,25 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 570,08 hektare lainnya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.
Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi dua wilayah dengan area penanganan terbesar. Di Kalimantan Tengah, dari target penanganan seluas 452,49 hektare, sekitar 63,10 hektare telah dipadamkan. Sementara itu, di Sumatera Selatan, dari target 401,67 hektare, sekitar 293,17 hektare telah berhasil dipadamkan.
Selain pemadaman langsung, pemerintah juga melakukan pemantauan titik panas, patroli, pembasahan lahan, dan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api. (BNPB)
Kabut Asap dan Kesehatan Masyarakat Menjadi Perhatian
Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat menurunkan kualitas udara, mengurangi jarak pandang, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap, menggunakan masker yang sesuai, serta memantau informasi kualitas udara dari instansi resmi.
Di samping itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di area rawan kebakaran, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Apabila menemukan titik api, masyarakat diharapkan segera melapor kepada BPBD setempat atau menghubungi layanan BNPB melalui nomor 117.
Pencegahan Menjadi Kunci Pengendalian Karhutla
Penurunan jumlah titik panas menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla. Namun, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya hotspot, melainkan juga oleh kondisi kebakaran di lapangan, luas lahan yang berhasil dipadamkan, serta tidak munculnya kembali titik api.
Oleh karena itu, koordinasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran baru. Pemantauan berkelanjutan dan penanganan yang cepat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.
Sumber: Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
