Kisah Umar bin Khattab Berbicara pada Hajar Aswad

Al Fauzi News | Umar bin Khattab RA memang terkenal tegas, tapi ada satu sisi yang kadang orang lupa: tauhidnya tajam dan bersih, tanpa kompromi. Salah satu kisah yang sering diceritakan soal ini terjadi saat Umar berdiri di depan Hajar Aswad saat thawaf. Umar menatap batu itu, lalu bicara jujur—kurang lebih begini, “Aku tahu ini cuma batu. Nggak bisa ngasih manfaat, nggak juga mudarat.” Buat Umar, aqidah itu nggak main-main. Ia nggak mau ada kesan sedikit pun kalau seorang muslim menyembah atau mengagungkan batu karena dianggap punya kekuatan gaib. Habis bilang itu, barulah Umar mencium Hajar Aswad. Cerita ini disampaikan para ulama dan muncul berkali-kali di berbagai kitab dan tulisan sirah.
Perkataan Umar RA ini terekam jelas dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari. Di situ diceritakan Umar datang ke Hajar Aswad, menciumnya, lalu bilang, “Aku tahu kamu cuma batu, nggak bisa ngasih mudarat atau manfaat. Kalau bukan karena aku lihat Nabi SAW menciummu, aku nggak akan menciummu.” Hadis ini jadi pegangan penting. Intinya, mencium Hajar Aswad itu sunnah, semata-mata karena ingin meneladani Rasulullah SAW, bukan karena percaya batu ini punya kekuatan gaib apa pun. Di sinilah Umar menunjukkan pelajaran tauhid yang tegas: ibadah harus berlandaskan ittiba’, mengikuti Nabi, bukan keyakinan mistis pada benda.
NU Online, lewat rubrik Sirah Nabawiyah, pernah membahas kisah Umar ini. Ulama klasik seperti Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin juga mengangkatnya. Para ulama sepakat, Umar memberi contoh nyata gimana menjaga kemurnian aqidah, walaupun sedang menjalankan ibadah yang bersinggungan langsung dengan benda simbolik. Hajar Aswad dihormati karena Allah dan Rasul-Nya memuliakannya, tapi tetap saja ia hanya makhluk, bukan untuk disembah. Penjelasan ini sangat membantu jamaah haji dan umrah. Tujuannya jelas: tawaf, istilam, dan mencium Hajar Aswad adalah ibadah yang harus dijalani dengan hati lurus, murni untuk Allah.
Dalam fiqih, para ulama sepakat mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, bukan wajib. Jadi, nggak perlu memaksakan diri sampai menyakiti orang lain di sekitar Ka’bah hanya demi bisa menyentuh atau menciumnya. Beberapa ulama kontemporer, termasuk yang dijelaskan di artikel fiqih NU Online, menegaskan: kalau suasana di sekitar Ka’bah penuh sesak, cukup beri isyarat tangan (istilam) dari jauh sambil bertakbir, nggak perlu berdesakan. Prinsipnya sederhana—ibadah sunnah nggak boleh sampai merugikan atau menyakiti jamaah lain. Itu jelas bertentangan dengan tujuan syariat, yang melindungi jiwa dan keselamatan.
Dari kisah Umar di depan Hajar Aswad, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, ibadah haji dan umrah itu seharusnya memperkuat tauhid, bukan malah bikin orang terjebak pada sikap berlebihan terhadap benda. Kedua, mencium Hajar Aswad itu wujud cinta pada sunnah Nabi SAW, bukan bentuk penghormatan pada batu yang dianggap punya kesaktian. Ketiga, ketegasan Umar dalam menyampaikan kalimat itu jadi contoh untuk para pemimpin dan pembimbing haji agar nggak bosan-bosan mengingatkan jamaah soal niat dan akidah yang benar. Kalau jamaah paham kisah ini, mereka nggak lagi sekadar kejar foto atau momen menyentuh Hajar Aswad, tapi lebih fokus pada penghambaan kepada Allah SWT, meneladani Rasulullah SAW, dan sahabat-sahabatnya.
