Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Konflik Amerika-Israel dan Iran Memanas, Bagaimana Harus Bersikap?

Kategori : Info Menarik, Sejarah, Sejarah Islam, Ditulis pada : 04 Maret 2026, 10:31:37

Konflik Amerika-Israel dan Iran Memanas, Bagaimana Harus Bersikap?

pecah-perang-iran-vs-israel-picu-perang-dunia-iii-xtl.jpg

Sahabat Fauzi, Ledakan dahsyat teradi di beberapa wilayah Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Dunia kembali dikejutkan dengan konflik berkepanjangan antara Amerika-Israel dengan Iran. Berawal dari serangan militer Amerika-Israel pada Sabtu (28/2/2026) ke wilayah Iran, suasana yang selama beberapa dekade  belum menemukan titik terang kembali memanas, bahkan kini menemukan puncaknya. Kedua pihak terus saling serang demi mempertahankan legitimasi masing-masing.

Sebagaimana diketahui, motif konflik utamanya adalah persoalan nuklir yang tak kunjung selesai, Serangan Amerika-Israel ke Iran kali ini memunculkan beragam pendapat, dari mulai penggantian rezim, pelumpuhan militer Iran hingga menjadikan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei sebagai target utamanya.  Sementara yang paling menyita perhatian kali ini selain banyaknya korban berjatuhan, tentu soal saling klaim keberadaan pemimpin tertinggi Iran, soal keberadaannya.

Kedua belah pihak pernah keukeuh pada pendapatnya masing-masing, yang satu mengklaim bahwa Ali Khamenei sudah wafat, sementara satu pihak lagi mengklaim bahwa pemimpin Iran karismatik itu masih dalam keadaan aman. Tentu kondisi ini dapat menjadikan sebuah kebingungan, sebuah tanda tanya besar apakah yang terjadi sebenarnya dan apa motif di balik itu semua. Terlepas dari persoalan itu, yang lebih disayangkan kita adalah soal konflik yang terjadi justru di bulan suci Ramadhan, bulan yang semestinya mendapatkan perhatian lebih.

Kesempatan umat Islam di dunia, termasuk di Iran untuk melaksanakan ibadah puasa dengan suasana tenang, aman, dan damai hanya cita-cita semata. Tampaknya, toleransi antar umat beragama dalam menyikapi perbedaan ritual keagamaan belum sepenuhnya menemukan titik terang. Egosentrisme diri, fanatisme buta, hingga keangkuhan pada diri suatu bangsa masih menjadi satu permasalahan dan tantanggan berat dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.  Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi konflik antara Amerika-Israel dan Iran yang terjadi kali ini? Mesti diketahui, konflik ini sangat rumit dan kompleks, tidak hanya soal urusan agama. Berbagai kepentingan pun muncul.

Penting untuk dipahami, bahwa konflik ini berakar pada faktor-faktor historis, sosial, teritorial, dan yang paling utama adalah motif politik. Karena beragam motif inilah, banyak negara pun hanya mampu menjadi penonton dan bersikap secara hati-hati.  Baca Juga Eskalasi Keamanan Timur Tengah, Puluhan Ribu Jamaah Umrah Indonesia Terdampak Penyesuaian Penerbangan Selain itu, dimensi geopolitik dunia juga mempengaruhi sulitnya konflik ini dapat selesai dengan cepat.

Negara-negara Islam sekalipun tampak berhati-hati dalam menyikapi dan mengambil sikap dalam konflik ini. Apalagi jika dibawa ke dalam ranah agama, Iran yang dikenal sebagai Islam Syi’ah justru banyak yang bersinggungan dengan negara-negara Islam yang kebanyakan beraliran Sunni. Sebagai contoh misalnya, Arab Saudi mengecam keras tindakan Iran yang membalas serangan Amerika-Israel ke pangkalan militernya yang ada di negara-negara teluk/timur tengah. Bisa jadi faktornya adalah faktor kemanusiaan. Dari serangan itu, sudah dipastikan akan berjatuhan korban dari sipil yang tidak bersalah. 

Jika kita melihat perkembangan eskalasi yang terus memburuk, kita tidak berharap konflik ini akan banyak menyeret banyak negara. Cukuplah konflik ini hanya melibatkan negara bersangkutan saja. Kita tidak ingin peristiwa kelam dahulu, Perang Dunia ke-1 dan ke-2, perang negara-negara teluk menjadi contoh nyata bahwa konflik berkepanjangan akan menimbulkan dampak kehancuran peradaban manusia seutuhnya.  Kita berharap, meskipun tidak terlibat langsung, peran PBB dan negara-negara internasional termasuk Indonesia sekalipun mampu memiliki peranan penting dalam kasus ini, paling tidak untuk meminimalisir konflik.

Diplomasi setiap negara dalam meyakinkan bahwa konflik berkepanjangan tidak akan membawa dampak yang bermanfaat sangat penting untuk digaungkan. Selain itu, negara-negara yang memiliki peranan strategis baik dalam segi ekonomi dan politik menarik untuk ditunggu perannya.  Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim di dunia tentu merasa prihatin atas konflik yang terjadi hari ini.

Sahabat Fauzi, Politik bebas aktifnya sudah harus menemukan tajinya. Jika ternyata negeri ini belum memiliki peran yang signifikan dalam meredam konflik ini, kekuatan doa sajalah yang mungkin bisa diberikan. Kita mesti yakin, konflik di dunia internasional yang melibatkan motif agama yang dirasa tak akan selesai dan akan terus terulang, kekuatan dan harapan melalui doa menjadi senjata utamanya. 

Sumber : NUOnline

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id