Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Jangan Sampai Komentar Viral Jadi Penyesalan

Kategori : Info Menarik, Ditulis pada : 06 November 2026, 23:19:22

Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Jangan Sampai Komentar Viral Jadi Penyesalan

f202304222047525.jpg

Sahabat Al Fauzi, Di tengah ramainya tren komentar pedas, konten kontroversial, dan berita viral, umat Islam diingatkan untuk lebih bijak dalam berbicara maupun menulis di ruang digital.

Media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membagikan aktivitas, mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan, hingga menyampaikan pendapat melalui kolom komentar, semuanya dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan layar. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal penting yang kerap terlupakan: menjaga lisan. Dalam Islam, menjaga lisan tidak hanya berlaku ketika berbicara secara langsung, tetapi juga mencakup tulisan, komentar, dan unggahan di media sosial.

Kebiasaan ikut berkomentar saat suatu isu sedang viral, menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, hingga melontarkan hinaan kepada orang lain dapat menimbulkan dampak yang lebih luas daripada yang dibayangkan.

Viral Bukan Berarti Benar, Ramai Bukan Berarti Harus Ikut Berkomentar

Ketika sebuah isu menjadi perbincangan hangat, tidak sedikit pengguna media sosial yang langsung memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan video, judul berita, atau informasi yang beredar di linimasa. Padahal, informasi yang viral belum tentu benar dan sebuah unggahan belum tentu menggambarkan kejadian secara utuh. Tanpa memeriksa sumber dan konteksnya, komentar yang ditulis terburu-buru berisiko menyebarkan prasangka, fitnah, bahkan merugikan orang lain.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga menyoroti persoalan disinformasi dan ujaran kebencian di ruang digital. Dalam pemberitaan pada Agustus 2026, Komdigi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai atau menyebarkan video yang ternyata merupakan rekaman lama maupun konten yang telah diedit sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga etika bermedia sosial bukan sekadar persoalan kesopanan, melainkan juga tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Islam Mengajarkan untuk Berkata dan Menulis yang Bermanfaat

Mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976).

Pesan ini sangat relevan dengan kebiasaan bermedia sosial saat ini. Tidak semua hal perlu ditanggapi, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua informasi perlu dibagikan.

Sebelum menulis komentar atau mengunggah sesuatu, seorang Muslim dapat mempertimbangkan apakah tindakannya membawa manfaat, menyampaikan kebenaran, atau justru berpotensi menyakiti orang lain. Menahan diri bukan berarti tidak boleh menyampaikan kritik. Kritik tetap dapat disampaikan selama dilakukan secara santun, berdasarkan fakta, dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan sekadar mempermalukan seseorang.

Tiga Cara Menjaga Lisan di Media Sosial

  1. Berhenti sejenak sebelum berkomentar

Ketika emosi sedang meningkat, hindari terburu-buru menulis komentar. Berikan waktu untuk berpikir agar pendapat yang disampaikan tidak berubah menjadi hinaan atau perkataan yang disesali.

  1. Periksa informasi sebelum membagikannya

Pastikan berita berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Baca informasi secara utuh, periksa tanggal publikasi, dan jangan langsung meneruskan video atau tangkapan layar yang belum jelas kebenarannya.

  1. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan

Bagikan informasi yang bermanfaat, nasihat yang disampaikan dengan santun, serta konten yang dapat menambah pengetahuan. Media sosial juga bisa menjadi sarana menyebarkan ilmu agama, mengingatkan dalam kebaikan, dan mempererat silaturahmi.

Bijak Bermedia Sosial, Cerminan Akhlak Seorang Muslim

Menjaga lisan di era digital merupakan bagian dari upaya menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Setiap komentar, unggahan, dan informasi yang dibagikan perlu dipertimbangkan dampaknya, sebab jejak digital dapat tersimpan dan menjangkau banyak orang.

Bagi umat Islam, aktivitas di media sosial seharusnya tidak hanya berorientasi pada jumlah tanda suka, tayangan, atau pengikut. Lebih dari itu, ruang digital dapat menjadi sarana untuk menebarkan manfaat dan menunjukkan akhlak yang baik. Termasuk ketika membagikan konten tentang ibadah, perjalanan umrah, atau kehidupan di Tanah Suci, penting untuk memastikan informasi yang disampaikan benar dan tidak menyesatkan.

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya tentang memilih kata-kata yang baik, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus mengoreksi informasi, dan kapan lebih baik menahan diri.

Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan pada diri sendiri: apakah tulisan ini benar, bermanfaat, dan pantas disampaikan? Sebab, tidak semua yang bisa dikatakan harus diucapkan, dan tidak semua yang bisa dibagikan harus disebarluaskan.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id