Hikmah Sa’i: Kisah Ikhtiar Siti Hajar, Pelajaran Berharga tentang Usaha dan Tawakal
Hikmah Sa’i: Kisah Ikhtiar Siti Hajar, Pelajaran Berharga tentang Usaha dan Tawakal

Sahabat Al-Fauzi, Ibadah umrah bukan hanya tentang mengunjungi Tanah Suci dan melaksanakan rangkaian ritual, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merenungi kisah-kisah penuh hikmah yang mengajarkan umat Islam tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati. Salah satunya adalah ibadah Sa’i, yaitu berjalan kaki antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Di balik ibadah ini, tersimpan kisah perjuangan Siti Hajar, seorang ibu yang menunjukkan keteguhan iman sekaligus ikhtiar luar biasa ketika menghadapi keadaan yang sulit. Kisahnya mengajarkan bahwa tawakal kepada Allah SWT bukan berarti berhenti berusaha, melainkan tetap melakukan yang terbaik sambil menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Mengenal Ibadah Sa’i dalam Umrah
Sa’i merupakan salah satu rangkaian penting dalam ibadah umrah. Pelaksanaannya dilakukan dengan berjalan antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah.
Landasan ibadah ini terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 158. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158).
Ayat tersebut menjelaskan kedudukan Safa dan Marwah sebagai syiar Allah. Bagi jamaah umrah, Sa’i bukan sekadar perjalanan dari satu bukit ke bukit lainnya, tetapi juga momentum untuk mengingat perjuangan, doa, dan keyakinan seorang hamba kepada pertolongan Allah SWT.
Kisah Siti Hajar: Berusaha di Tengah Keterbatasan
Kisah Sa’i bermula dari perjuangan Siti Hajar ketika berada di lembah Makkah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Saat itu, wilayah tersebut masih tandus dan belum memiliki sumber air yang dapat mereka gunakan.
Ketika persediaan air habis, Siti Hajar berusaha mencari pertolongan bagi dirinya dan sang anak. Ia kemudian berjalan bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah untuk mencari tanda-tanda keberadaan air atau orang yang dapat membantu mereka.
Siti Hajar tidak hanya menunggu pertolongan datang. Ia bergerak, mencari, dan terus berusaha meskipun berada dalam keadaan yang sulit.
Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, dikisahkan bahwa Siti Hajar berulang kali melakukan perjalanan antara Safa dan Marwah hingga tujuh kali. Setelah itu, atas izin Allah SWT, air Zamzam memancar di dekat Nabi Ismail AS.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Islam dan menjadi latar belakang disyariatkannya Sa’i dalam ibadah haji dan umrah.
Kisah ini memperlihatkan bahwa keimanan Siti Hajar berjalan beriringan dengan ikhtiar. Ia meyakini pertolongan Allah, tetapi keyakinan itu tidak membuatnya berhenti melakukan usaha yang mampu ia lakukan.
Tiga Hikmah Sa’i yang Relevan dalam Kehidupan
- Tawakal Harus Disertai Ikhtiar
Salah satu pelajaran terbesar dari kisah Siti Hajar adalah pentingnya menyertakan usaha dalam tawakal. Berdoa dan memohon pertolongan Allah merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Namun, doa juga perlu diiringi dengan langkah nyata sesuai kemampuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan ketika seseorang sedang mencari pekerjaan, menempuh pendidikan, membangun usaha, atau menghadapi persoalan keluarga. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
- Jangan Mudah Menyerah Ketika Menghadapi Kesulitan
Siti Hajar menunjukkan keteguhan hati ketika menghadapi keadaan yang tidak mudah. Ia terus berusaha mencari air demi keselamatan putranya.
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa kesulitan bukan alasan untuk langsung berhenti berjuang. Setiap orang memiliki ujian dan prosesnya masing-masing. Terkadang, hasil dari sebuah usaha belum terlihat dalam waktu singkat, tetapi hal itu tidak berarti usaha tersebut sia-sia.
Sa’i mengajak jamaah untuk merenungkan arti ketekunan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
- Pertolongan Allah Bisa Datang dengan Cara yang Tidak Disangka
Air Zamzam menjadi bagian penting dari kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. Setelah Siti Hajar berikhtiar, Allah memberikan pertolongan melalui cara yang tidak ia duga sebelumnya.
Pelajaran ini bukan berarti setiap usaha akan menghasilkan sesuatu persis seperti yang kita inginkan atau dalam waktu yang kita harapkan. Sebaliknya, kisah tersebut mengajarkan kita untuk tetap berusaha, menjaga harapan, dan percaya kepada kebijaksanaan Allah SWT dalam menghadapi berbagai keadaan.
Sa’i: Menghadirkan Makna, Bukan Sekadar Menyelesaikan Rangkaian Ibadah
Ketika melaksanakan Sa’i, jamaah umrah dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk mengingat perjuangan Siti Hajar dan merenungkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Setiap perjalanan dari Safa menuju Marwah dan kembali menjadi pengingat tentang pentingnya keteguhan, kesabaran, serta ikhtiar dalam kehidupan seorang Muslim.
Meski demikian, Sa’i tetap merupakan ibadah yang memiliki tata cara dan ketentuan tersendiri. Memahami sejarah serta hikmahnya dapat membantu jamaah menghayati ibadah dengan lebih baik, tanpa mengabaikan tuntunan pelaksanaannya.
Bagi jamaah yang baru pertama kali menunaikan umrah, mempelajari makna setiap rangkaian ibadah sebelum keberangkatan dapat menjadi bekal yang bermanfaat. Dengan demikian, perjalanan ke Tanah Suci tidak hanya dipersiapkan secara fisik dan administratif, tetapi juga melalui pemahaman tentang nilai-nilai spiritual yang menyertainya.
Kisah Siti Hajar mengajarkan bahwa keimanan bukan hanya tentang keyakinan di dalam hati, tetapi juga tercermin melalui tindakan. Ia berdoa, percaya kepada Allah, dan tetap berusaha dalam menghadapi keadaan yang sulit.
Melalui ibadah Sa’i, kita diingatkan bahwa seorang Muslim tidak dituntut untuk mengetahui seluruh jawaban atas persoalan hidupnya. Yang dapat dilakukan adalah terus berikhtiar, memohon pertolongan Allah, dan menjalani setiap proses dengan penuh keyakinan.
Semoga kisah Siti Hajar senantiasa mengingatkan kita bahwa usaha yang sungguh-sungguh, doa yang terus dipanjatkan, dan tawakal kepada Allah merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.
