Sebelum Berangkat ke Tanah Suci, Kenali Dulu Fakta-Fakta Haji Ini

Al Fauzi News | Haji itu satu dari lima rukun Islam, wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh, berakal, dan mampu secara fisik maupun finansial. Allah sudah jelas memerintahkannya lewat surat Ali Imran ayat 97: siapa yang sanggup, wajib berangkat ke Baitullah. Jadi, haji bukan cuma soal perjalanan spiritual ke Mekah. Ini bentuk ketaatan total kita meninggalkan rumah, harta, dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.
Kalau bicara sejarah, haji punya akar yang sangat tua bahkan jauh sebelum zaman Nabi Muhammad ﷺ. Banyak rangkaian manasik haji yang terhubung dengan kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar ‘alaihimassalam, mulai dari pembangunan Ka’bah, thawaf mengelilingi Baitullah, sampai sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah. Di masa Nabi Muhammad ﷺ, sekitar abad ke-7 M, syariat haji disempurnakan. Jadi, bentuk haji yang kita kenal sekarang sebenarnya kelanjutan dari tradisi tauhid yang sudah berlangsung ribuan tahun.
Haji dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 13 Dzulhijjah, di bulan terakhir kalender hijriah. Dalam hari-hari itu, jamaah melaksanakan puncak ibadah: wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina, lalu thawaf ifadah di Masjidil Haram. Karena kalender hijriah pakai peredaran bulan, tanggal haji di kalender Masehi selalu mundur sekitar 10-12 hari tiap tahun. Tapi di kalender hijriah, haji selalu jatuh di hari-hari mulia itu.
Dari sisi jumlah, haji ini luar biasa. Sebelum pandemi, data resmi Pemerintah Saudi mencatat sekitar 2,5 juta jamaah datang setiap musim, dari berbagai penjuru dunia. Mereka berasal dari beragam negara, suku, bahasa, status sosial tapi semuanya pakai pakaian ihram yang sama: dua lembar kain putih tanpa jahitan untuk laki-laki, pakaian sederhana menutup aurat untuk perempuan. Ini simbol kuat, di hadapan Allah semua manusia sama. Hanya takwa yang membedakan.
Secara spiritual, haji jadi momen besar untuk menghapus dosa dan memperbarui diri. Banyak hadits menyebut haji mabrur balasannya surga, dan siapa yang hajinya diterima, pulang seperti bayi baru lahir bersih dari dosa. Haji juga melatih sabar, ikhlas, disiplin, dan kepedulian sosial, karena jamaah harus berdesak-desakan, berbagi ruang, saling membantu sesama muslim dari seluruh dunia. Dengan memahami semua ini, sudah semestinya kita semakin serius menyiapkan diri iman, ilmu, fisik, finansial supaya saat Allah memanggil, kita benar-benar siap berangkat.
