Memudahkan Anda Menuju Baitullah

Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Saling Memaafkan

Kategori : Info Menarik, Pengetahuan Islami, Ditulis pada : 11 Februari 2026, 09:41:54

Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Saling Memaafkan

2023-04-20-Tausiyah-Keutamaan-Saling-Memaafkan-Idul-Fitri-1.jpg

Sahabat Fauzi, Memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah dilakukan. Meski begitu, memaafkan adalah pilihan terbaik yang kita ambil demi kebaikan diri sendiri. Dengan saling memaafkan, kita melepaskan beban emosi negatif dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih dan tenang.

Dalam menjalani hidup, kita semua pernah berbuat salah dan mengalami kesalahan dari orang lain. Kita pernah merasa terluka, sakit hati, bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Namun, kita selalu punya pilihan bagaimana menyikapi semua itu.

Salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dan jiwa adalah dengan saling memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan atau membenarkan perbuatan yang salah, tetapi melepaskan beban emosi negatif yang selama ini membebani hati.

Apalagi, kita akan segera memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita membersihkan hati dari segala emosi negatif yang dapat mengganggu pikiran dan mengurangi kekhusyukan ibadah kita di bulan suci ini.

Sikap saling memaafkan merupakan salah satu perintah Allah Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf (hal yang baik), dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al A’raf. Ayat 199)

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, jilid 1, halaman 413 mengutip pendapat sahabat Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bertanya, “Wahai Jibril, apa maksud ayat ini?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkan agar engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

قَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ ﷺ: «يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟». قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَقُولُ هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»

Artinya: Dari 'Ikrimah, ketika ayat ini turun, Nabi SAW bersabda: "Wahai Jibril, apa ini?" Jibril menjawab: "Wahai Muhammad, Tuhanmu berfirman, yaitu hendaklah engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan denganmu), engkau memberi orang yang tidak memberi (kepadamu), dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu."

Lebih jauh, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa para ulama berpendapat penjelasan yang disampaikan Jibril selaras dengan makna ayat tersebut. Menyambung kembali hubungan dengan orang yang memutuskannya merupakan wujud sikap pemaaf. Memberi kepada orang yang tidak memberi adalah bentuk nyata dari perbuatan baik. Sementara itu, memaafkan orang yang telah menzalimi berarti memilih untuk berpaling dari sikap dan perilaku orang-orang yang bodoh.

Sahabat Fauzi, Pada hakikatnya, menjadi pribadi yang pemaaf adalah bagian dari upaya kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal memaafkan. Rasulullah SAW selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan ketika Nabi sendiri menjadi korban. Baginda tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian, melainkan selalu memilih jalan memaafkan.

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Sebaliknya, maaf lahir dari jiwa yang besar dan hati yang kuat. Orang yang pemaaf bukan hanya menang atas orang lain, tetapi juga berhasil mengalahkan hawa nafsunya sendiri, nafsu yang mendorong untuk marah, membalas dendam, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain. 

Dengan membuka pintu maaf seluas-luasnya, Nabi Muhammad SAW ingin menunjukkan bahwa membalas dendam tidak akan membawa kemuliaan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya, Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. (HR Muslim)

Sahabat Fauzi, Pada akhirnya, memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan. Meski begitu, memaafkan adalah pilihan terbaik demi kebaikan diri kita sendiri. Mari kita memilih untuk saling memaafkan, melepaskan beban emosi negatif, dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dan tulus.

Sumber : NUOnline

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id